Sejarah Kabupaten Jember Sejak Zaman Hayam Wuruk Hingga Kolonial, Dibuktikan Oleh Candi Yang Ada di Gumukmas

0
18

Mempelajari sejarah sangat penting bagi generasi bangsa agar cakrawala pengetahuan terbuka lebar.

Sejarah sebuah daerah memiliki berbagai peristiwa yang bisa dijadikan pedoman atau pelajaran hidup.

Jember adalah salah satu kabupaten yang terletak di wilayah Jawa Timur. Jember memiliki luas 3.293,34 km2 dengan ketinggian antara 0 – 3.330 mdpl.

Kabupaten Jember memiliki luas ±3.293,34 km2, dan panjang pantai ±170 km, sedangkan Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) ± 8.338,5 km2.

secara wilayah Jember Berbatasan langsung dengan Kabupaten Banyuwangi, Bondowoso, Lumajang.

Mayoritas penduduk Kabupaten Jember adalah Suku Jawa dan minoritas Suku Osing dan Suku Madura yang sebagian besar beragama Islam.

Suku Madura dominan di daerah utara dan Suku Jawa di daerah selatan dan pesisir pantai.

Percampuran kedua kebudayaan Madura dan Jawa di Kabupaten Jember melahirkan satu kebudayaan baru yang bernama budaya Pendalungan.

Masyarakat Pendalungan di Jember mempunyai karakteristik yang unik sebagai hasil dari penetrasi kedua budaya tersebut.

Kesenian Can Macanan Kaduk merupakan satu hasil budaya masyarakat Pendalungan yang masih bertahan sampai sekarang di Kabupaten Jember.

Jember dalam sejarah dan perjalanannya di mulai dari masa kerajaan dalam hal ini Majapahit adalah salah satu kerajaan yang memiliki andil besar terhadap dimulainya peradaban Jember.

Cerita Jember menurut buku Nagarakretagama (1953) karangan Prof. Slamet Muljana seorang ahli Filologi dari Universitas indonesia (UI).

Beberapa referensi tertulis menjelaskan bahwa Raja Majapahit Hayam Wuruk yang bergelar “Rakryan Mantri Maka Pramuka”.

Mencapai masa kejayaannya dalam memerintah Majapahit bersama Mahapati Amangkubumi Gajah Mada.

Dia bersama para punggawa kerajaan melakukan perjalanan dari Majapahit menuju wilayah timur hingga daerah Patukangan Situbondo.

Jember adalah sebagai daerah perlintasan Raja beserta rombongan pada tahun 1359 M.

Terbukti dengan bekas peninggalannya yang masih bisa kita lihat hingga kini yaitu tersebar di daerah Jember selatan.

Diantaranya adalah Candi Deres yg terletak di Desa Purwoasri Kec. Gumukmas dan sumur kuno tembikar di Desa Muneng Kec. Gumukmas Jember.

Pada masa Tribuwana Tungga Dewi, pusat peradaban terbesar berada di wilayah Pegunungan Sadeng tepatnya di wilayah Kec. Puger Jember Selatan.

Kerajaan Sadeng adalah kerajaan kecil di wilayah Jember selatan sebagai salah satu pemasok lumbung pangan Majapahit dari Wilayah timur.

Kerajaan ini runtuh akibat perang Sadeng (Pasadeng) tahun 1331 M atau juga dikenal dengan pemberontakan Sadeng oleh Gajah Mada dan para prajurit Majapahit yang penuh unsur politik terhadap kewibawaan Gajah Mada dan kepemimpinan Tribuwana Tungga Dewi.

Pada masa kolonial, kawasan ini disebut sebagai Java Oosthoek yang merupakan cikal bakal lahirnya Jawa Timur.

Penguasa Mataram Pakubuwono II yang terdesak menghadapi perlawanan pemberontak Untung Suropati dan Trunojoyo, menggadaikan wilayah ini pada VOC.

Pada masa Perang Puputan Bayu (1771-1774) daerah Puger, Kedawung dan Nusa Barong di Jember menjadi basis pertahanan melawan VOC.

Ketika di Belanda golongan liberal dengan Open Door Policy nya berkuasa, Jember dirubah menjadi lahan perkebunan (afdeling) untuk komoditi tembakau, lalu kopi, kakao, dan karet selama berpuluh-puluh tahun.

Jejak masa perkebunan tembakau ini kental mewarnai khasanah sejarah Jember hingga sekarang

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here