Tari Ta` Butaan Dianggap Sebagai Kebudayaan Jember Yang Sudah Dilakukan Sejak Bertahun Tahun Lalu

0
17

Kebenaran terkait sejarah harus dilakukan melalui metode penelitian agar ditemukan sejarah aslinya.

Karena sejak dahulu tidak pernah ditemukan bukti konkrit yang menyebutkan asal usul sebuah kesenian secaya khusus.

Indonesia merupakan negara yang dikarunia dengan kekayaan dan keberagaman suku, budaya, kesenian dan adat istiadat.

Namun kemudian perkembangan zaman, kemajuan teknologi dan banyak faktor lainnya.

Menyebabkan tergerusnya kesadaran masyarakat akan pentingnya untuk melestarikan kekayaan tersebut.

Kesenian merupakan salah satu contoh kekayaan Indonesia yang terancam kepunahannya.

Begitu banyaknya aneka ragam kesenian yang berasal dari beragam suku dan daerah.

Salah satunya adalah kesenian yang berasal dari wilayah Jember, Tari Ta’Butaan.

Dilansir dari laman warisanbudaya.kemdikbud.go.id menuliskan referensi bahwa.

Kesenian Ta’Butaan merupakan kesenian tertua dan asli dari Kabupaten Jember.

Yang dipercaya oleh masyarakat Jember berasal dari Desa Kamal Kecamatan Arjasa.

Tidak ada dokumen tertulis mengenai kapan munculnya kesenian ini di wilayah Jember.

Namun merujuk dari tradisi lisan keluarga pemangku Tabutaan yang berasal dari keturunan Buyut Nyami yang merupakan pendiri desa Kamal.

Bahwa lahirnya kesenian Tabutaan karena telah terjadi krisis pangan pada masa lalu akibat hama wereng dan belalang selama enam tahun berturut-turut.

Pada tahun keenam ada sepasang suami-istri dengan tangan terikat di pinggang.

Menari berkeliling desa diiringi tabuhan lesung yang biasanya digunakan untuk menumbuk padi.

Sejak saat itu paceklik berangsur-angsur hilang dan keadaan kembali seperti sedia kala.

Untuk menghindari terjadinya kembali paceklik kemudian warga membuat sepasang boneka.

Sebagai sosok simbolis dalam ritual bersih desa setelah panen raya yang kemudian disebut dengan Tabutaan.

Prosesi Tabutaan dilakukan setiap tahun sekali menampilkan penari yang berada dalam boneka raksasa terbuat dari bambu.

Kemudian dianyam dan diberi pakaian lengkap dengan tangan terikat, berwajah raksasa dan diarak keliling desa.

Sampai sekarang masyarakat masih berjuang keras agar kesenian ini tetap terselenggara meskipun dalam kondisi zaman sudah kurang diperhatikan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here