Pemuda Desa Betung Melestarikan Budaya Ningkuk Atau Runca Runcakan Karena Hampir Punah

0
19

Apresiasi perlu diberikan kepada Sekelompok pemuda – pemudi di Desa Betung, Kecamatan Semendawai Barat

Dengan semangat bersama melakukan upaya melestarikan adat istiadat khususnya adat Komering Betung.

Mereka sangat antusias menggelar acara ningkuk atau runcak-runcakan dalam bahasa Komering.

Di mana acara Ningkuk ini biasanya diadakan di setiap acara pernikahan yang mana saat ini acara adat seperti ini sudah hampir punah.

PLH Kepala Desa Betung Firdaus, AmPd beberapa waktu lalu mengatakan bahwa.

acara ningkuk dilaksanakan untuk menghidupkan kembali adat istiadat khususnya ada Komering Betung.

“Di mana acara seperti ini sudah hampir punah dan hampir ditinggalkan oleh generasi saat ini.

Alhamdulillah para tokoh adat sangat mendukung diadakannya acara seperti ini karena tentunya untuk melestarikan budaya,” katanya Senin (24/06/2024).

Ia juga menyampaikan, Pemerintah Desa Betung bersama tokoh masyarakat akan terus berupaya melestarikan tradisi Ningkuk ini.

Sebab, banyak nilai positif dalam kegiatan Ningkuk yang bisa dipetik. Seperti unsur bersosialisasi, bertanggung jawab, kecekatan.

“Serta tentu saja sebagai fungsi rekreasi dan dengan melestarikan budaya,” ujarnya.

Lanjut kata dia, dengan budaya dan adat istiadat ini tentunya memberikan edukasi yang positif kepada generasi muda.

“Selain itu acara ini juga biasanya menjadi ajang mendapatkan jodoh dan kenalan baru bagi muda mudi atau bujang gadis kita,” bebernya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, Tradisi ini biasanya akan dilakukan di setiap ada warga yang hendak melangsungkan acara pernikahan.

Ningkuk ini menjadi salah satu cara pertemuan bujang dengan gadis yang merupakan teman kedua calon mempelai.

“Nantinya bujang dan gadis ini akan ditempatkan pada satu lokasi secara berhadap-hadapan,” jelasnya.

Kemudian, mereka akan saling berpantun sembari menjalankan selendang dari satu orang ke orang lainnya sembari diiringi musik.

Lalu ketika lantunan musik berhenti, maka selendang yang diedarkan tersebut juga berhenti.

“Selanjutnya bagi yang memegang selendang saat musik berhenti itu maka akan mendapatkan semacam hukuman.

Seperti menari secara berpasangan, merayu lawan jenis, berpantun, dan lain sebagainya,” tuturnya.

Sementara, Rudi salah satu pemuda yang mengikuti acara ningkuk ini menyampaikan, bahwa tradisi Ningkuk kini memang sudah jarang dijumpai.

Oleh karena itu, ia juga mengajak generasi muda untuk tetap melestarikan tradisi ningkuk ini.

“Kita berusaha agar dapat merawat tradisi lama yang telah hampir punah ini agar tetap terjaga di tengah masyarakat,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here